5 Dampak Negatif Kekurangan Gizi yang Bisa Terjadi pada Anak

Masa kanak-kanak adalah masa penjajakan. Oleh karena itu, ia memerlukan banyak gizi setiap hari. Bahkan kebutuhan akan gizi lebih besar ketimbang orang dewasa. Apa yang terjadi jika ia mengalami kekurangan gizi? Tentu berbagai penyakit jadi mudah menyerang. Sistem kekebalan tubuh juga menurun. Berikut dampak negatif akibat kurang gizi.

Dampak Negatif Kekurangan Gizi yang Bisa Terjadi pada Anak

DAMPAK NEGATIF KEKURANGAN GIZI PADA ANAK

1. Diare


Sejauh ini, penyebab diare secara umum bisa dihitung dengan jari. Mulai dari efek intoleransi pada makanan hingga terinfeksi oleh virus tertentu. Pada taraf ringan, memang gejalanya tidak mudah terlacak. Tapi hilangnya cairan maupun ion dalam jumlah besar tentu bukan hal yang sepele. Bahkan di tahap serius, penyakit ini bisa membawa kematian.

Saat si kecil terkena diare, ia rentan sekali dengan dehidrasi. Akibatnya, organ dan jaringan tubuh jadi tidak bisa bekerja secara optimal. Di tahap yang serius, diare bisa menyebabkan kejang-kejang, gangguan ginjal, sampai syok hipovolemik. Maka dari itu, biasakan untuk sedia makanan yang mengandung probiotik. Kemudian jangan lupa untuk perbanyak minum tiap hari.

2. Pneumonia


Di tahun 2015, berdasarkan data dari WHO, ada lebih dari 900 ribu anak berusia kurang dari 5 tahun yang meninggal akibat pneumonia. Sederhananya, penyakit akibat kekurangan gizi ini memiliki dampak yang begitu destruktif. Sedangkan di Indonesia sendiri, pada tahun 2017 kurang lebih 2000 balita meninggal akibat penyakit ini.

Mengapa penyakit pneumonia bisa menyerang anak-anak? Dalam sejarahnya, penyakit ini hanya menyerang seseorang dengan ciri khusus. Mulai dari balita, perokok, seseorang dengan kekebalan tubuh yang rendah, sampai penderita penyakit kronis. Adapun penyebabnya bisa dikarenakan jamur, bakteri, virus, hingga mikoplasma.

Bagaimana cara mendeteksi si kecil yang terkena penyakit pneumonia? Penyakit infeksi pada kantong udara di paru-paru ini menimbulkan beberapa efek yang bisa dideteksi. Si kecil yang mengalaminya akan lebih sering mual-mual, diare, sesak napas, demam, serta meningkatnya detak jantung. Saat ia menarik napas, dada juga terasa begitu nyeri.

3. Malaria


Umumnya, penyakit malaria disebabkan oleh gigitan nyamuk. Tapi, apakah sesederhana itu? Rupanya, faktor gizi juga turut berperan dalam masuknya parasit malaria ke dalam tubuh si kecil. Ketika tubuh dalam keadaan fit atau segar-bugar, dampak dari parasit bisa ditanggulangi oleh sistem kekebalan dalam tubuh. Begitu pula sebaliknya.

Biasanya, gejala pasca masuknya parasit malaria baru kelihatan dalam rentang waktu 6-12 jam. Tandanya antara lain badan mulai menggigil, suhunya naik, dan tubuh mendadak lemas. Dalam kondisi normal, penyakit ini bisa sembuh dalam beberapa hari saja. Tapi khusus untuk anak yang memiliki kadar gizi yang rendah, bisa berakibat fatal, bahkan kematian.

4. Perkembangan Motorik Jadi Melambat


Dalam menjalani rutinitas sehari-hari, si kecil sangat memerlukan aktivasi dan perkembangan dari saraf motorik. Fungsinya tidak hanya untuk menjalani aktivitas fisik saja, tetapi juga untuk mengasah spontanitas gerakan pada tubuh. Ada banyak cara untuk mengasah saraf motorik pada anak. Mulai dari melempar bola, jalan cepat, buka-tutup halaman buku, dan lain-lain.

Hanya saja, khusus untuk anak yang mengalami kendala perihal gizi, perkembangan motoriknya cenderung lambat. Akibatnya, saat anak-anak lain sudah banyak melakukan aktivitas, ia cukup kesulitan untuk mengikuti gerakan mereka. Maka dari itu, mulai dari sekarang untuk lebih memperhatikan soal kebutuhan makanan bergizi untuk si kecil sebelum terlambat.

5. Mudah Terkena Penyakit Infeksi


Dari mana saja infeksi penyakit bisa terjadi? Macam-macam. Bisa dari gigitan serangga, luka dari benda tajam, suntikan, terkena benda keras, dan lain-lain. Pada saat yang sama, tubuh akan merespons dengan lebih defensif. Maksudnya, saat bagian tubuh mengalami memar, luka, atau goresan, maka sistem kekebalan tubuh bisa dengan cepat memulihkannya.

Namun hal itu tidak terjadi untuk anak yang mengalami gizi buruk. Begitu terkena luka, biarpun sedikit saja, biasanya akan sulit disembuhkan. Seakan-akan aliran darah tiada mau berhenti. Akibatnya, bakteri jahat pun dengan mudah masuk lewat udara dan tertanam di bawah lapisan kulit. 

Cukup berbahaya, bukan?


Untuk mencegah anak dari kekurangan gizi, seyogyanya perlu menerapkan pola hidup sehat sehari-hari. Makanan empat sehat lima sempurna sering-sering disediakan untuknya. Jangan hanya nasi atau makanan berkarbohidrat tinggi. Selain kurang produktif untuk perbaikan gizi, efeknya bisa lebih buruk dalam jangka panjang.

HALAMAN SELANJUTNYA:


Artikel Terkait

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel